6 March 2019

Penelitian Kualitatif

 Penelitian Kualitatif 

Banyak orang kesulitan menentukan pilihan tepat untuk melakukan sebuah penelitian, sebab setiap kali kita ingin melakukan sebuah penelitian , kita selalu diberikan dua pilihan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Metode penelitian adalah rangkaian kerja dari suatu kegiatan penelitian yang didasari pada pandangan filosofis, asumsi dasar, ideologis, pertanyaan serta isu yang sedang berkembang dan dihadapi. Sedangkan Tujuan dari rangkaian kerja tadi adalah untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan tepat serta bisa dipertanggung jawabkan nantinya. Selain itu hasilnya nanti bisa menyelesaikan masalah yang terkait dengan penelitian yang kita lakukan.
Sebelum kita masuk ke pembahasan lebih dalam lagi, ada baiknya jika kita mengenal terlebih dahulu macam-macam metode penelitian beserta penjelasannya.

A. MACAM-MACAM METODE PENELITIAN

1. Penelitian Kuantitatif

Metode penelitian kuantitatif adalah salah satu jenis penelitian yang lebih sepsifik, sistematis, terencana, dan juga terstruktur dari awal hingga kesimpulan. Penelitian kuantitatif lebih menekankan pada penggunaan angka-angka yang membuatnya menjadi lebih spesifik. Selain itu penggunaan tabel, diagram dan grafik juga mendukung. Didalam penelitian Kuantitatif ada beberapa metode yang mendukung yaitu deskriptif, komparatif (perbandingan), survei, penelitian tindakan, korelasi, dan ekspos.

2. Penelitian Kualitatif
Metode penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dari penelitian lebih ditonjolkan. Selain itu landasan teori digunakan untuk lebih fokus pada penelitian yang dilakukan. Penelitian jenis ini lebih subyektif dari pada penelitian kuantitatif. Metode ini terbilang baru daripada metode sebelumnya. Metode ini juga sering disebut sebagai metode naturalistik karena penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah, dan juga disebut sebagai metode etnographi karena banyak digunakan untuk mengamati kebudayaan atau antropologi.
 Nah dari dua penjelasan tadi setidaknya kita bisa ambil kesimpulan mana yang kira-kira cocok dan mampu kita lakukan untuk memulai sebuah penelitian. Untuk kali ini kita coba berfokus pada penelitian Kualitatif, dalam penelitian kualitatif ternyata ada ciri-cirinya bahwa itu penelitian kualitatif.

B. Ciri – ciri Penelitian Kualitatif

1. Bersifat deskriptif analitis, terlihat dari caranya mengumpulkan dan merekap data yang bukan dicatat dalam bentuk angka namun penjelasan sejelas-jelas dan sedalam-dalamnya.
2. Bersifat induktif, yaitu peneltiian dimulai dari data atau fenomena.
3. Menggunakan teori yang sudah ada sebagai pedoman dan pendukung.
4. Berfokus pada makna yang terdapat dalam suatu fenomena yang diteliti, yang dapat digali dari persepsi objek penelitian.
5. Mengutamakan akan pentingnya proses penelitian yang berjalan, bukan semata mengacu pada hasil yang ingin dicapai.

C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif

Setelah memahami apa itu penelitian kualitatif, selanjutnya kita akan membahas apa saja jenis penelitian yang ada dalam penelitian kualitatif. Berikut adalah jenis-jenis penelitian kualitatif yang biasa digunakan dalam penelitian ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi:
A. Fenomenologi
 Jenis Metode Penelitian Kualitatif yang pertama adalah fenomenologi. Kata fenomenologi Berasal kata dari bahasa Yunani, phainomenon yang berarti penampakan diri dan logos yang berarti akal, studi fenomenologi merupakan penelitian yang mengkhususkan pada fenomena dan realitas yang tampak untuk mengkaji penjelasan di dalamnya. Fenomenologi sendiri memiliki dua makna yaitu sebagai filsafat sains dan juga metode penelitian, yang bertujuan mencari arti atau makna dari pengalaman yang ada dalam kehidupan. Fenomenologi akan menggali data untuk menemukan makna dari hal-hal mendasar dan esensial dari fenomena, realitas, atau pengalaman yang dialami oleh objek penelitian. 
B. Etnografi
 Berangkat dari dasar ilmu antropologi atau kajian budaya, etnografi merupakan metode penelitian yang melihat kajian bahasa dalam perilaku sosial dan komunikasi masyarakat dan bagaimana bahasa tersebut diterapkan berdasarkan konsep budaya yang terkait. Kajian etnografi memiliki dua dasar konsep yang menjadi landasan penelitian, yaitu aspek budaya (antropologi) dan bahasa (linguistik), dimana bahasa dipandang sebagai sistem penting yang berada dalam budaya masyarakat. Metode penelitian etnografi memiliki tujuan untuk mengkaji bentuk dan fungsi bahasa yang tersedia dalam budaya serta digunakan untuk berkomunikasi individu di dalamnya, serta melihat bagaimana bentuk dan fungsi bahasa tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Selain itu, metode etnografi juga menginterpretasikan kelompok sosial, sistem yang berlaku dan peran yang dijalankan, serta interaksi sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat. Metode etnografi biasanya digunakan untuk berfokus pada kegiatan atau ritual tertentu dalam masyarakat, bahasa, kepercayaan, cara-cara hidup, dan lain sebagainya. 
C. Studi Kasus
 Sesuai dengan namanya, metode penelitian studi kasus meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada dalam masyarakat yang dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang, keadaan, dan interaksi yang terjadi. Studi kasus dilakukan pada suatu kesatuan sistem yang bisa berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang ada pada keadaan atau kondisi tertentu. 
D. Metode Historis
 Penelitian selanjutnya adalah metode historis, yaitu penelitian yang memiliki fokus penelitian berupa peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu dan  melakukan rekonstruksi masa lalu denga sumber data atau saksi sejarah yang masih ada hingga saat ini. Sumber data tersebut bisa diperoleh dari berbagai catatan sejarah, artifak, laporan verbal, maupun saksi hidup yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran persaksiannya. Ciri lain dari metode historis adalah kajian penelitian lebih banyak bergantung pada data observasi orang lain yang sudah terlebih dahulu melakukan penelitian, bukan hanya data observasi milik peneliti itu sendiri. Selain itu,sumber data yang digunakan haruslah bersifat objektif, sistematis, akurat, serta otentik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta berasal dari sumber yang tepat.
E. Metode Teori Dasar (Grounded Theory)
 Jenis Metode Penelitian Kualitatif lainnya ada Metode Teori Dasar. Metode teori dasar merupakan penelitian yang dilakukan untuk menemukan suatu teori atau menguatkan teori yang sudah ada dengan mengkaji prinsip dan kaidah dasar yang ada lalu dibuat kesimpulan dasar yang membentuk prinsip dasar dari suatu teori. Dalam melakukan metode ini, peneliti perlu memilah mana fenomena yang dapat dikatakan fenomena inti dan mana yang bukan untuk dapat diambil dan dibentuk suatu teori. Pengumpulan data metode teori dasar ini dilakukan dengan studi lapangan, observasi, pembandingan antara kategori, fenomena, dan situasi berdasarkan berbagai penilaian, seperti kajian induktif, deduktif, dan verifikasi hingga datanya bersifat jenuh.
Tujuan Penelitian Kualitatif
 Tujuan penelitian kualitatif menurut Kriyantono adalah untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan cara pengumpulan data sedalam-dalamnya pula, yang menunjukkan pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteliti. Pada penelitian kualitatif, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data yang didapatkan maka dapat dikatakan semakin baik pula kualitas penelitian.

24 February 2019

Pengetahuan Dari Penelitian Naratif



                                                         Tuggu Proklamasi Sura Baya




Untuk memperdalam pengetahuan, tidak mesti harus datang dan meninjau dari sesuatu yang ingin kita ketahui, kita dapat belajar dan mengetahui setua dari pengalaman orang lain, atau dari cerita baik dalam bentuk novel, buku atau menonton sebuah filem. Supaya apa yang kita pelajari dan kita coba pahami dapat hasil yang  memuaskan hendaklah hal tersebut kita barengi denga sebuah penelitian yang memang khusus memindangi tentang pengalaman atau sejarah masalalu.

A. Penelitian Naratif

Penelitian naratif adalah studi tentang cerita. Sebuah cerita dapat muncul sebagai catatan sejarah atau novel fiksi, seperti dongeng, autobi-ographies, dan genre lainnya. Adapun untuk mendapatkan suatu Cerita yakni melelui sebuah proses seperti mendengarkan dari orang lain atau bertemu secara langsung dengan pelaku melelui wawancara. Studi tentang cerita dilakukan dalam berbagai disiplin keilmuan, termasuk sastra kritik, sejarah, filsafat, teori organisasi, dan sosial ilmu pengetahuan. Dalam ilmu sosial, cerita dipelajari oleh para antropolog, SOCI- ologists, psikolog, dan pendidik.
 Menurut Webster dan Metrova, narasi (narrative) adalah suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia  dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari.

B. Jenis-Jenis Penelitian Naratif

Jenis narasi dapat dilihat dengan mengetahui pendekatan apa yang digunakan. Menurut Polkinghorne (1995 hal 12) ada dua pendekatan yang bisa diambil yaitu pendekatan dengan membedakan antara analisis narasi dan analisis naratif :
1.Analisi narasi

Analisis narasi adalah sebuah paradigma dengan cara berpikir untuk membuat deskripsi tema yang tertulis dalam cerita atau taksonomi jenis

2.Analisis naratif,

Analisis naratif adalah sebuah paradigma dengan mengumpulkan deskripsi peristiwa atau kejadian dan kemudian menyusunya menjadi cerita dengan menggunakan alur cerita.

Dari kedua pendekatan tersebut Pendekatan kedua adalah untuk menekankan berbagai bentuk yang ditemukan pada praktek penelitian naratif. Misalnya: sebuh otobiografi, biografi, dokumen pribadi, riwayat hidup, personal accounts, etnobiografi, otoetnografi.

a) Autobiografi adalah bentuk studi naratif dimanaindividu atau orang lain yang ditulis subyek penelitian bagi tulisanya sendiri.

b) Biografi adalah bentuk studi naratif dimana peneliti menulis dan mencatat pengalaman orang lain. Naratif otobiografi individu yang menjadi subjek studi yang menulis laporannya. Degan menaganlisis biografi kita dapat menentukan siapa yang menulis dan mencatat cerita individu.

c) Riwayat hidup adalah suatu naratif dari keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Fokusnya sering meliputi titik balik atau peristiwa penting dalam kehidupan individu. Dalam pendidikan, studi naratif secara khusus tidak meliputi laporan dari suatu keseluruhan kehidupan tetapi malah berfokus pada suatu bagian atau peristiwa tunggal dalam kehidupan individu. Dengan riwayat hidup kita dapat melihat berapa banyak dari suatu kehidupan yang dapat dicatat dan disajikan oleh penulis

d) Personal account adalah suatu naratif mengenai seseorang. Contoh naratif seorang Dosen tentang pengalamannya di dalam kelas. Studi naratif yang lain berfokus pada mahasiswa di dalam kelas. Beberapa individu yang lain dalam latar pendidikan dapat memberikan cerita, misalnya tenaga administrasi, pramusaji, tukang kebun dan tenaga kependidikan yang lain. Dengan ini kita dapat melihat siapa yang memberikan cerita.

e) Etnografi adalah deskripsi tentantang kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup; ilmu tentangt pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi. Misalnya. Pandangan teoretis untuk Amerika latin menggunakan pandangan “testimonios”, untuk cerita tentang wanita menggunakan perspektif  “feminist”. Suatu pandangan teoretis dalam penelitian naratif adalah pedoman perspektif atau ideologi yang memberikan kerangka untuk menyokong dan menulis laporan Apakah suatu pandangan teoretis digunakan.

Jika peneliti merencanakan melakukan studi naratif, maka perlu mempertimbangkan jenis studi naratif apa yang akan dilakukan. Dalam studi naratif, untuk mengetahui jenis naratif apa yang akan digunakan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui karakteristik esensial dari tiap-tiap jenis.

C. Karakteristik Penelitian Naratif

Salah satu kunci karakteristik yang menonjol dalam penelitian naratif adalah terdapat tujuh karakteristik utama penelitian naratif yaitu:

a) Pengalaman individu.

Peneliti naratif berfokus pada pengalaman satu individu atau lebih. Peneliti mengeksplorasi pengalaman-pengalaman individu. Pengalaman yang dimaksud pengalaman pribadi dan pengalaman sosial. Penelitian naratif berfokus memahami pengalaman masa lalu individu dan bagaimana pengalaman itu memberi kontribusi pada pengalaman masa sekarang dan masa depan

b) Kronologi pengalaman.

Memahami masa lalu individu seperti juga masa sekarang dan masa depan adalah salah satu unsur kunci dalam penelitian naratif. Peneliti naratif menganalisis suatu kronologi dan melaporkan pengalaman individu. Ketika peneliti berfokus pada pemahaman pengalaman ini, peneliti memperoleh informasi tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan partisipan. Kronologi yang dimaksud dalam penelitian naratif adalah peneliti menganalisis dan menulis tentang kehidupan individu menggunakan urutan waktu menurut kronologi kejadian

c) Pengumpulan cerita.

Peneliti memberi tekanan pada pengumpulan cerita yang diceritakan oleh individu kepadanya atau dikumpulkan dari beragam field texts. Cerita dalam penelitian naratif adalah orang pertama langsung secara lisan yang mengatakan atau menceritakan. Cerita biasanya memiliki awal, tengah dan akhir. Cerita secara umum harus terdiri dari unsur waktu, tempat, plot dan adegan. Peneliti naratif mengumpulkan cerita dari beberapa sumber data. Field textsdapat diwakili oleh informasi dari sumber lain yang dikumpulkan oleh peneliti dalam desain naratif. Cerita dikumpulkan dengan cara diskusi, percakapan atau wawancara.

d) Restorying.

Cerita pengalaman individu yang diceritakan kepada peneliti diceritakan kembali dengan kata-kata sendiri oleh peneliti. Peneliti melakukan ini untuk menghubungkan dan mengurutkannya. Restoryingadalah proses dimana peneliti mengumpulkan cerita, menganalisisnya dengan unsur kunci cerita (waktu, tempat, plot dan adegan) dan kemudian menulis kembali cerita itu untuk menempatkannya dalam urutan kronologis Ada beberapa tahap untuk melakukan restory :

1) Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.

2) Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.

3) Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi.

4) Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.

5) Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.

6) Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi

e) Coding tema.

Peneliti naratif dapat memberi kode dari cerita atau data menjadi tema-tema atau kategori-kategori. Identifikasi tema-tema memberikan kompleksitas sebuah cerita dan menambah kedalaman untuk menjelaskan tentang pemahaman pengalaman individu. Peneliti menggabungkan tema-tema menjadi kalimat mengenai cerita individu atau memasukannya sebagai bagian terpisah dalam suatu penelitian. Peneliti naratif secara khusus memberi tema utama setelah proses restory

e) Konteks atau latar.

Peneliti menggambarkan secara terperinci latar atau konteks dimana pengalaman individu menjadi pusat fenomenanya. Ketika melakukan restory cerita partisipan dan menentukan tema, peneliti memasukkan rincian latar atau konteks pengalaman partisipan. Latar atau setting dalam penelitian naratif boleh jadi teman-teman, keluarga, tempat kerja, rumah dan organisasi sosial atau sekolah.

f) Kolaborasi.

Peneliti dan partisipan berkolaborasi sepanjang proses penelitian. Kolaborasi dalam penelitian naratif yaitu peneliti secara aktif meliput partisipannya dalam memeriksa cerita yang dibukakan atau dikembangkan. Kolaborasi bisa meliputi beberapa tahap dalam proses penelitian dari merumuskan pusat fenomena sampai menentukan jenis field texts yang akan menghasilkan informasi yang berguna untuk menulis laporan cerita pengalaman individu. Kolaborasi meliputi negoisasi hubungan antara peneliti dan partisipan untuk mengurangi potensi gap atau celah antara penyampai naratif dan pelapor naratif.

Kolaborasi juga termasuk menjelaskan tujuan dari penelitian kepada partisipan, negoisasi transisi dari mengumpulkan data sampai menulis cerita dan menyusun langkah-langkah untuk berbaur dengan partisipan dalam penelitian.

 Fustaka :
Sebagai Cara dalam Menelusur dan Menguak Cerita dari Hasil Penelitian Menjadi Sesuatu Yang Bersifat Ilmiyah. Disampaikan dalam Diskusi Pasca-Sarjan UMS Metode Penelitian dalam Pendidikan Islam. Oleh: Minten Ayu Larassati

18 February 2019

Artis Ada Karena Diciptakan Bukan Karena Lahir






Di angkat Dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M. A yang telah ia presentasikan pada Serial Call For paper dan konferensi Nasional KOMUNIKASI INDONESIA UNTUK MEMBANGUN PERADABAN BANGSA Di Grand Mega Resort Hotel, Bali, 16 April 2013 tentang artis dan perkembagan Filem di indonesia, dari penelitian tersebut kami menyimpulkan ternyata seorang artis itu ada karena diciptakan bukan bawaan sejak lahir.
 Dari penelitian beliau yang mengambil contoh tentang sepasang artis dalam sebuah filem Habibie & Ainun, dimana Reza Rahadian yang berperan sebagai Bacharudin Jusuf Habibie dan Bunga Citra Lestari berperan sebagai Ainun (2012). sangat erat kaitanya antara artis dan perkembagan Filem di indonesia. Disi si peneliti melakukan penelitian berdasarkan teori apakah Artis itu dilahirkan atau dibuat yang bersumber dari buku constructing a sociology of the arts karya Vera L Zolberg (1990), bab 5 Are Artis born or made? yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan asumsi-asumsi pandangan dunia dengan filosofinya adalah pragmatisme serta di lantar belakangi Film Habibie & Ainun.
Film Habibie & Ainun ini telah memecahkan rekor perfilman Indonesia, hanya karena menceritakan perjalanan cinta Bacharuddin Jusuf Habibie seorang mantan presiden Indonesia keTiga setelah Soeharto. Tercatat dalam Waktu tiga hari Filem H&A telah di tonton oleh 3.897.273 orang dan ditayangkan di 241 layar bioskop Indonesia (Irwansyah 2013). Adapun permasalahan peneliti mengupas Filem H&A mencari tahu Bagaimana hubungan artis Indonesia dan Filem Indonesia ditinjau dari kasus Reza Rahadian yang berperan sebagai BJ Habibie dan Bunga Citra lestari sebagai Ainun, sementara tujuan dari penelitian yang di lakukan oleh peneliti untuk memahami Bagaimana hubungan artis Indonesia dan Filem Indonesia ditinjau dari kasus Reza Rahadian yang berperan sebagai BJ Habibie dan Bunga Citra lestari sebagai Ainun.
Di Penutup peneliti menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang artis tidak akan pernah lepas dari Seni (Film) itu sendiri, dari yang kita ketahui bahwa seni bisa menjadi inovasi baru atau tradisional, ia bisa saja benar-benar baru dibuat atau merupakan hasil daur ulang dengan menggunakan artis yang berperan di dalamnya. Dari analisis Becker dalam pandangan sosiologis yang mengingatkan kita bahwa tidak hanya artis saja yang memberikan kredit atas sebuah pekerjaan seni. Lebih dari itu ia melihat bahwa pekerjaan seni adalah hasil kerja kolektif yang tanpa dukungan dari banyak pihak, mungkin saja karya seni sang artis tidak bisa dinikmati oleh khalayak.
Dari penuturan diatas dapat saya simpulkan bahwa tercipta atau terkenalnya seorang artis karena ada khalayak dan kerja keras serta peran aktor dan sutra darah untuk membrending seseorang sehingga menjadi terkenal, di sini juga kreatifvitas dari seorang artis dalam memerankan suatu adengan sangat dibutuhkan tidak hanya dari paras atau kecantikannya saja. menurut Erving Goffman kehidupan sehari-hari dapat diumpamakan sebagai panggung pertunjukan dan manusia adalah para actor yang menggunakan pertunjukan itu untuk memberikan kesan kepada para penonton.

9 October 2018

Penyesalan Zainudin, Tahta Putri Mako, Dan Cintaku



Di balik penyesalan Zainudin

Zainudin : Sembari memeluk erat tubuh Hayati yang telah tiada, setengah berbisik zainudin kembali melapaskan dan mengulangi isi surat terahir dari Hayati sebelum pergi meninggalkannya untuk selamanya. “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Bisik zainudin sembari menangis dan memeluk erat jazad hayati.
‘’ Ibarat nasi telah menjadi bubur, sebua penyesalan pasti datang kemudian’’ , padahal sebelum kepergian Hayati dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck  ,  Zainudin telah menyuruh hayati pulang kekampung halamanya setelah hayati sempat tinggal di kediaman zainudin beberapa bulan terahir. Alasan apa zainudin menyuruh pulang Hayatiq? padahal mereka sudah tinggal bersama saat ini!, bukankah mereka berdua masih saling mencintai?...
  Alasanya  zainudin,dirinya  masih merasa sakit hati atas ketidak setiaan Hayati dan keluargannya, yang tegah menolak lamaran dirinya dengan dalih bahwa selain orang miskin dan bukan dari darah bangsawan, zainudin berasal dari garis keturunannya tidaklah jelas di bandingkan dengan Hayati seorang dara manis keturunan bangsawan. Bilah kita baca kisah cinta mereka dari sebua novel  atau kita tonton filem mereka dengan judul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang merupakan film drama romantis Indonesia tahun 2013 yang disutradarai oleh Sunil Soraya dan diproduseri oleh Ram Soraya, yang  diadaptasi dari sebua novel berjudul sama karangan Buya Hamka. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck mengisahkan tentang perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Dapat kita petik bahwa latar belakang sosial sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Max Weber dalam (J Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2006:18) mengklasifikasikan empat jenis tindakan sosial yang mempengaruhi sistem dan struktur sosial masyarakat yaitu; 1. Rasionalitas instrumental. Yaitu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. 2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.  Alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada didalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut., 3. Tindakan tradisional. Seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari   nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar  atau perencanaan, 4. Tindakan afektif. Tindakan ini didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar. Tindakan afektif bersifat spontan, tidak rasional dan merupakan refleksi emosional dari individu. 
 Hanya karena tindakan efektif yang dilakuan oleh Zainudin dirinya harus menangung penyesalan hingga akhir hayatnya. Begitu juga dengan orang tua  Hayati, seandainya tidak membeda-bedakan garis keturunan dan derajat saya yakin semua tidak akan terjadi. Banyak orang-orang diluar sana yang dapat merajut hubungan rumah tangga yang sakina mawadha,wahrohma berasal dari orang-orang tidak mampuh. Menurut Eric Fromm: cinta adalah suatu seni, Salah satu esensi dari cinta adalah adanya kreativitas dalam diri seseorang, terutama dalam aspek memberi dan bukan hanya menerima. Nah berati harta dan warisan tidaklah menjamin seseorang akan hidup bahagia, namun justru dengan cintah mereka dapat menumbuhkan kretaifvitas mereka untuk membahagiakan pasangan masing-masing.

1. Tulisan ini berupa non fiksi semata untuk untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi , penulisnya merupakan mahasiswa STISIPOL Candradimuka Palembang Jurusan Ilmu Komunikasi semester V.
2. Refprensi diambil dari film drama romantis Indonesia tahun 2013 yang disutradarai oleh Sunil Soraya dan diproduseri oleh Ram Soraya, yang  diadaptasi dari sebua novel karangan Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
3. Max Weber dalam (J Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2006:18) mengklasifikasikan empat jenis tindakan sosial.


Salah satu contoh kisah yang berjudul ‘Kisah Putri Mako yang Memilih Cinta ketimbang Tahta’’ Oleh: Aulia Adam - 24 Mei 2017, kisah ini mengisahkan seorang Putri Mako dari Jepang lebih memilih melepaskan kebangsawanan demi cintanya kepada seorang rakyat jelata. Putri Mako, cucu tertua Kaisar Jepang Akihito  jadi kepala berita di sejumlah media terkait keputusan kontroversialnya melepaskan gelar kebangsawanan demi menikahi rakyat biasa. Konstitusi di Jepang memang mengatakan, perempuan dalam keluarga kerajaan harus melepas kebangsawanannya jika menikahi pria dari rakyat biasa. Pria yang merebut hati Putri Mako itu bernama Kei Komuro, seorang karyawan di sebuah badan hukum di Yokoshima, Kei memberanikan diri melamar kekasihnya, yang jelas-jelas bukan orang sembarangan. Lamaran itu rupanya tak hanya diterima Putri Mako, tapi juga direstui kedua orang tuanya, Pangeran Naruhito dan Putri Kiko. Bahkan juga mendapat restu dari kakek-neneknya, Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko. Tanggal pertunangan mereka, seperti dikutip Japan Times, akan diumumkan pertengahan Juni mendatang, dan pesta pernikahannya sendiri direncanakan berlangsung tahun depan.
  Fakta bahwa Putri Mako harus rela meninggalkan tahta kebangsawanannya dan mengikuti suami jadi rakyat biasa. Aturan Kekaisaran Jepang yang menganut sistem patriarkat memang belum adil pada perempuan, sebab aturan yang sama tak berlaku pada laki-laki di keluarga Kekaisaran. Tante dan nenek Putri Mako: Putri Masako dan Permaisuri Michiko sendiri adalah keturunan orang biasa yang dipersunting pangeran dan kaisar  anehnya kaisar tidak harus melepaskan tahtanya karena menikahi rakyat jelata, justru sang rakyatlah terangkat derajatnya menjadi ratu karena disuting kaisar. Tapi, Putri Mako sepertinya tak peduli, risiko kehilangan kebangsawanan pun tampaknya siap dijalaninya. Ia memang bukan Putri Jepang pertama yang akan dikeluarkan dari silsilah tahta. Bibinya—adik bungsu sang ayah—Putri Sayako menikahi pegawai negeri di Kantor Gubernur Tokyo pada 2005 silam, dan tentu saja kehilangan kebangsawanannya. Ia mengganti namanya menjadi Sayako Kuroda, mengikuti sang suami, Yoshiki Kuroda. Dalam sejarah manusia, para bangsawan dari berbagai kerajaan dan kekaisaran di dunia memang punya aturan sendiri tentang pernikahan. Kebanyakan dari mereka menimbang pernikahan sebagai tindakan politik, ekonomi, dan diplomatik untuk mempertahankan kekuasaan, memperluas daerah, gencatan senjata, mempertahankan darah biru, atau menjaga eksklusivitas. Praktik ini terjadi di sepenjuru dunia. Misalnya Kerajaan Inggris, Dinasti Cina, bahkan Kerajaan-Kerajaan Indonesia di zaman Hindu-Buddha hingga pasca-proklamasi: Ratu Elezabeth II menikahi Pangeran Phillip yang masih sepupu jauhnya; Pangeran Dorgon, bupati Qing Manchu di China menikahi Putri Yishun dari Korea; bahkan dalam tahapan keraton, Raden Ajeng Kartini disuruh menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang demi menjaga kedamaian.
  Dari cuplikan diatas dapat lebih menyakinkan kita bahwa Patriarkat, sistem pengelompokan sosial yang sangat mementingkan garis turunan bapak: seorang anak harus menyandang nama ayahnya karena sistem keluarga dan pewarisannya adalah sistem patriarkat. Tidak semua berlaku di penjuru dunia ini, ternyata banyak orang-orang relah meninggalkan kekayaan bahkan tahtahanya hanya mencari kedamaian hati mereka bersama orang-orang yang mereka sayangi, meskipun penderitaan yang akan mengancam kehidupan mereka selanjutnya. Menurut Dunvall dan Miller (dalam Hasanah, 2012) mendefinisikan pernikahan sebagai hubungan antara pria dan wanita yang telah diakui dalam masyarakat yang melibatkan hubungan seksual, adanya penguasaan dan hak mengasuh anak, dan saling melengkapi kekurangan serta mengetahui tugas masing-masing sebagai suami dan istri. Menurut ajaran Islam  “Dan nikah kanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32) Sedangkan menurut Erich Fromm (1983) dalam bukunya Seni Mencintai menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima, dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyertakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan.. jelas sudah berarti kekayaan, tahta tidakla menjamin kebahagian seseorang tanpa didasari cinta dan kasih sayang, harta, tahta dan derajat dapat kita cari namun kebahagian, kedamaian hati tidak semua orang dapat merasakan itu.
1. Putri Mako Memilih Cinta ketimbang Tahta  Aulia Adam - 24 Mei 2017,
2. Dunvall dan Miller ( Hasanah, 2012)
3. An Nuur 32
4. Erich Fromm (1983)
5. Patriarkat, sistem pengelompokan sosial


 Semua itu dapat dirasan oleh pengalaman saya pribadi bahwa begitu beratnya memperjuangkan sebuah cinta terhadap orang yang kita sayangi, tidak hanya pengorbanan biaya, kesabaran serta keihklasan juga sangat dibutuhkan dalam sebua perjuangan yang namanya Cinta, terkadang air mata merupakan sebua bubumbu dalam merajut sebua hubungan rumah tangga, apa lagi yang menjadi penghalang antara kita dengan orang yang kita sayangi itu adalah orangtua dan saudara kita sendiri. Berat rasanya harus mengambil sebuah keputusan kita harus pilih yang mana, ya yang namanya hidup kita haru memiliki komitmen dan berani ambil resiko apa lagi seorang lelaki harus berjiwa kesatria harus berani membuat keputusan apapun resikonya.
  Saya ceritakan sedikit, saya putra bungsu dari enam saudara yang tinggal di sebuah perkampungan suku musi, sedangkan istri saya anak tertua dari enam saudara keturunan betawi yang hidup dan besar dikota metropolitan yang terkenal yang sering di sebut-sebut kota palembang. Adanya hubungan lintas budaya tersebut membuat hubungan cinta kami ditolak keras oleh kedua keluarga kami, apa alasanya ? jawabnya hanya singkat yaitu adanya prasangka Sosial .  orangtua dan saudara-saudara saya berprasangka atau beranggapan bahwa orang kota hanya bisa bersolek bercantik diri, jalan-jalan ke mall, pemalas dan hanya bisa menghabiskan uang suami, apa bilah suami tidak bisa memenuhi kebutuhannya maka si wanita akan pergi meninggalkan sang suami. Begitu juga sebaliknya orang tua dan saudara-saudara istriku beranggapan bahwa peria keturunan musi pemalas, kasar suka main tangan dan suka beristri banyak. Namun dengan keyakinan dan berdasarkan kasih sayang yang kami miliki walaupun berat akhirnya pernikahan kami terlaksana meskipun sempat tertunda selama satu tahun, alhamdulillah hingga delapan tahun pernikahan kami apa yang menjadi dugaan dan prasangka dari kedua orang tua sungguh bertolak belakang, biarpun kami tinggal dirumah kontrakan dengan perekonomian sangatlah  pas-psan namun kami bahagia dan saling melengkapi, saya yang dulu putus sekolah malahan sekarang bakal menjadi seorang sarjanah.
       Menurut Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negatif, tetapi biasanya lebih bersifat negatif. Sedangkan menurut Brehm dan Kassin (1993), prasangka sosial adalah perasaan negatif terhadap seseorang semata-mata berdasar pada keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu. Dari sini dapat kita lihat apa penyebab sehingga terjadinya pertentangan-pertentangan dari kedua kelompok, mulai dari kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, orang tua Hayati berprasangka bahwa Zainudin tidak akan mampuh membahagiakan anaknya dengan alasan zainudin selain orang miskin juga berketurunan tidak jelas, Putri Mako harus kehilangan gelar bangsawan hanya karena adanya Patriarkat, sistem pengelompokan sosial di lingkungan kaisar, sayapun sempat sedikit putus asa karena adanya prasangka sosial. Prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Pengaruh Kepribadian, Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep prasangka sosial, karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga, berpikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.
2. Pendidikan dan Status, Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya akan mempengaruhi cara berpikirnya dan akan meredusir prasangka sosial.
3. Pengaruh Pendidikan Anak oleh Orangtua, tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai family ideologi yang akan mempengaruhi prasangka sosial.
4. Pengaruh Kelompok, Kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut
5. Pengaruh Politik dan Ekonomi, telah banyak memicu terjadinya prasangka social terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.
6. Pengaruh Komunikasi  juga memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang baik, sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang kesemuanya hal ini akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.
   Meskipun demikian semua dapat kita atasi jika masyarakat kita sudah menerapkan  Akulturasi, menurut Koentjaraningrat, akulturasi suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Salah satu contoh dari proses akulturasi di Indonesia adalah yang terjadi di daerah transmigrasi. Di antara berbagai suku bangsa yang terdapat di daerah transmigrasi, secara alami terjadi pertemuan dua budaya atau lebih. Akulturasi dapat terjadi melalui kontak budaya yang bentuknya dapat bermacam-macam salah satunya melalui pernikahan yang berbeda kebudayaan.

1. Mar’at (1981), prasangka sosial.
2.  Koentjaraningrat, akulturasi
3.  Armadipujangga.blogsport.com

Entri yang Diunggulkan

Hikma Yudisium Daring (Online) Menjadi Kebanggan Orangtua

Akibat Covid-19 atau yang sering kita sebut Corona membuat sebagain orang merasa kecewa, karena Gordon yang menjadi kebanggaan seharusnya di...